PRESS RELEASE PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS MIKROBIOLOGI KLINIK INDONESIA (PAMKI) KEWASPADAAN PNEUMONIA WUHAN YANG DISEBABKAN OLEH VIRUS CORONA BARU 2019 (2019-nCoV)

 Akademik, Pengumuman

Epidemiologi

Wuhan adalah sebuah kota modern yang terletak lebih 1.035 kilometer Selatan ibukota China, Beijing.  Munculnya Kejadian Luar Biasa pneumonia di kota tersebut di awal tahun 2020 sangat mengejutkan, setelah diketahui disebabkan oleh virus corona yang belum pernah diketahui menyerang manusia. Virus Corona manusia (HCoV) pertama  kali diisolasi tahun 1960an, dan sejauh ini terdapat enam jenis HCoV yaitu HCoV-229E, HCoV-OC43, HCoV-NL63, HCoV-HKU1, Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus  (SARS-CoV), dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Dua virus terahir dapat menyebabkan infeksi paru berat sampai kematian, dan sudah dianggap sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat dunia. Secara filogenetik, 2019-nCoV memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan SARS-CoV dan cukup dekat dengan MERS-CoV. Sampai saat ini infeksi oleh 2019-nCoV telah dideteksi di 2019-nCoV Thailand, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Singapura, selain di beberapa daerah di China sendiri. Jumlah penderita saat ini mencapai lebih dari 400 orang, 17 diantaranya meninggal (CFR 3,4%). Angka ini mungkin akan terus meningkat.

Diagnosis
Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi 2019-nCoV umumnya adalah demam, batuk, sesak napas, dan kesulitan bernafas. Pada kasus yang lebih parah, infeksi virus ini dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut berat, gagal ginjal, dan kematian. Definisi kasus menurut WHO adalah, seseorang dengan penyakit pernapasan akut dengan tingkat keparahan yang, dalam 14 hari sebelum timbulnya penyakit, memiliki salah satu dari paparan berikut: kontak fisik dekat dengan kasus infeksi 2019-nCoV yang dikonfirmasi; atau fasilitas kesehatan di negara di mana rumah sakit terkait infeksi 2019-nCoV telah dilaporkan; atau mengunjungi atau bekerja di pasar hewan hidup di Wuhan, Cina, atau kontak langsung dengan hewan (jika sumber hewan diidentifikasi) di negara-negara di mana 2019-nCoV diketahui bersirkulasi dalam populasi hewan atau di mana infeksi manusia telah terjadi sebagai akibat dari penularan zoonosis (WHO / 2019-nCoV / Surveillance / v2020.2). Diagnosis dapat dipastikan jika dapat ditemukan virus 2019-nCoV dari spesimen klinis (Usap Nasofaring atau Orofaring), atau didapatkan kenaikan titer antibodi spesifik melalui uji serologi.

Penularan
Pada 21 Januari, tim ahli tingkat tinggi Komisi Kesehatan Nasional China telah mengkonfirmasi penularan antar-orang dari 2019-nCoV dan infeksi di antara staf medis. Virus korona manusia paling umum menyebar dari orang yang terinfeksi ke orang lain melalui udara dengan batuk dan bersin (penularan airborne); kontak pribadi erat, seperti menyentuh atau berjabat tangan; setelah menyentuh suatu benda atau permukaan dengan virus di atasnya, kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata sebelum mencuci tangan. Virus 2019-nCoV dapat pula ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis).

Pencegahan dan Pengobatan

Saat ini belum ada vaksin maupun pengobatan khusus untuk penyakit yang disebabkan oleh 2019-nCoV. Namun, banyak gejala klinis yang dapat diobati dan karenanya pengobatan didasarkan pada kondisi klinis pasien.

Masyarakat diminta untuk memahami dan waspada, namun tidak perlu panik. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya:

  1. Menghindari kontak dengan pasien yang diduga terinfeksi khususnya memiliki riwayat berpergian dari negara China dalam waktu belum lama ini.
  2. Membiasakan cuci tangan dengan sabun atau alcohol (hand rub) dan air mengalir.
  3. Menutup hidung dan mulut saat batuk dan bersin dengan tissue atau masker
  4. Memasak daging dan telur unggas secara matang dan higienis
  5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dapat mencegah penularan dan penyebaran infeksi 2019-

Petugas kesehatan yang secara langsung atau tidak langsung merawat atau kontak dengan pasien terduga atau dipastikan terinfeksi oleh 2019-nCoV diharuskan menerapkan kewaspadaan universal (Contact, Droplet, dan Airborne Precaution) dalam pengendalian infeksi di rumah sakit atau fasilitas kesehatan, untuk memastikan tidak terjadinya penularan kepada pasien lain, petugas kesehatan, pengunjung, dan masyarakat luas.

Informasi Lebih lanjut.

Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik senantiasa siap membantu dalam melaksanakan pencegahan, kajian epidemiologi, diagnosis laboratorium, dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

Referensi:

  1. https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
  2. https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019
  3. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-nCoV/summary.html

Author: